There was an error in this gadget

Sunday, January 2, 2011

SEORANG WANITA YANG SABAR

KHAULAH BINTI TSA'LABAH
WANITA YANG SABAR DENGAN SUAMINYA....

"Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh) Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau lahir sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang pernah menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh peperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`. Khaulah binti Tsa`labah pada suatu hari mendapatkan suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, lantas Aus berkata, "Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku." Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama beberapa orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesedaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, "Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya, meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang perihal tersebut. Rasulullah saw bersabda, "Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, "Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya". Sesudah itu wanita mukminah ini sentiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak menitiskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya.

Beliau berdo’a, "Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku". Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw. Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sedar, baginda bersabda, ["Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu.] kemudian bagida membaca firman-Nya (ertinya), {"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: "dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih."(Al-Mujadalah:1-4)
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar. Rasulullah saw perintahkan kepada suami Khaulah untuk memerdekakan seorang budak(hamba). Lantas Khaulah berkata; "Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang boleh dimerdekakan". "Jika demikian perintahkan kepadanya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut". Berkata Khaulah;"Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat untuk berpuasa". sambung Rasulullah lagi, "perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin". "Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya". Rasulullah bersabda "Aku bantu dengan separuhnya". "Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah", jawab Khaulah. Sabda Rasulullah, "Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan aduan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandungi banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya. Ummul mukminin Aisyah r.Anha berkata tentang hal ini, "Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan aduan kepada Rasulullah saw, dia berbincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di penjuru rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, kemudian turunnya firman Allah Azzawajalla yang bermaksud,{"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan aduan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…"} (Al-Mujadalah: 1)Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin AlKhatthab r.a yang sedang berucap di khalayak umum tentang perihal mahar bagi kaum wanita. Beliau berkata, "Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah." Saidina Umar Amirul Mukminin hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar segala perkataan Khaulah. Al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khatthab tidak tahan mendengarnya lalu berkata kepada Khaulah, "Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita!". Umar lalu menegur Al-Jarud Al-Abdi, "Biarkan dia...tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya." Dalam riwayat lain Umar bin AlKhatthab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu solat maka aku akan mengerjakan solat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby,h.242-246, Terbitan AT-TIBYAN).

No comments:

Post a Comment